Jumat, 27 Maret 2015

INSEKTISIDA TIDAK HANYA MEMBUNUH HAMA



Saat ini, dapat dikatakan bahwa bagi banyak orang, memberantas hama adalah identik dengan menyemprotnya dengan insektisida. Padahal, sebenarnya masih banyak cara lain. Hama dapat dikendalikan dengan berbagai cara, yaitu: secara fisik atau mekanik, secara kultur teknis dengan mengatur cara bercocok tanam, secara hayati atau biologis. dengan menggunakan makhluk hidup yang menjadi musuh alami hama, nah yang terakhir dengan cara kimiawi  yaitu menggunakan bahan kimia beracun yang disebut insektisida.
Masing-masing cara memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri-sendiri  Namun saat ini, mungkin karena dianggap banyak keunggulannya, seperti telah diuraikan sebelumnya, yang paling populer adalah pengendalian kimiawi dengan menggunakan insektisida. Memberantas hama dengan insektisida efektif dan praktis, walauppun akan kelihatan nanti bahwa penggunaan insektisida, terutama kalau dilaksanakan berlebihan, dan kurang bijaksana akan menimbulkan banyak masalah sampingan. Kita akan meninjau lebih lanjut pengendalian cara ini.

Insektisida Kimiawi

Insektisida adalah bahan kimia beracun yang dapat digunakan untuk membunuh serangga. Bahan aktif insektisida dapat berupa senyawa organik atau anorganik, senyawa alam atau sintetik. Dipasaran yang banyak dijual adalah insektisida kimiawi sintetis organik, artinya bahan aktif itu dibuat secara reaksi kiwiawi di pabrik, dan senyawa itu mengandung gugus C-H-O. Akhir-akhir ini berkembang juga penggunaan insektisida nabati dengan bahan aktif ekstrak tumbuhan, dan insektida hayati dengan bahan aktif makhluk hidup seperti mikroba, cendawan, bakteri, virus atau nematoda.

Apapun bahan aktifnya, insektisida diaplikasikan dengan cara yang hampir sama yaitu dengan dicampur air kemudian disemprotkan menggunakan penyemprot (sprayer), atau dicampur tepung kemudian dihembuskan menggunakan pengembus (duster), atau dapat juga dicampur carrier yang dibentuk menjadi butiran kemudian ditebarkan (granule). Semua cara aplikasi tujuannya untuk menyebarkan bahan aktif ke seluruh daerah sasaran pengendalian.
Jadi berapapun jumlah hama yang ada di  lapangan, ada sedikit atau banyak, daerah sasaran tersebut harus “ditutup” dengan bahan aktif insektisida dengan harapan akan mengenai dan membunuh hama yang ada. Makin penuh penutupan permukaan makin baik, atau makin besar kemungkinan populasi hama terbunuh insektisida.
Cara insektisida membunuh serangga hama ada bermacam-macam. Tergantung sifat racun insektisidanya, serangga hama dapat terbunuh teracuni setelah bahan aktif menempel di permukaan kulit (racun kontak), karena bahan aktip masuk kedalam sistem pencernakan bersama makanan (racun perut), karena bahan aktip masuk kedalam sistem pernapasan (racun nafas atau fumigan). Beberapa jenis insektisida memiliki tidak hanya satu sifat, melainkan gabungan antara racun kontak - racun perut, racun kontak - racun nafas dls
Sebenarnya insektisida sudah dikenal sejak jaman kuno. Namun penggunaan insektisida modern yaitu insektisida kimia sintetik seperti yang kita kenal sekarang baru dimulai sejak ditemukan dan diproduksinya DDT (Dikloro Dipenil Trikloroetan) pada tahun 1939. Senyawa ini adalah racun kontak yang sangat efektif, tidak mudah terurai, dan daya racunnya bersifat broad spectrum (meracuni hampir semua makhluk). Semula banyak digunakan untuk mengendalikan hama vektor penyakit, dan telah berjasa mencegah wabah (epidemi) penyakit berbahaya dengan cara membunuh vektornya, seperti penyakit tipus dan malaria. Namun kemudian DDT populer juga digunakan untuk mengendalikan hama pertanian. Di tahun 1940–an ribuan orang di berbagai negara terselamatkan oleh DDT sehingga pada tahun 1948 PAUL MULLER sebagai penemunya mendapat hadiah Nobel.
DDT termasuk senyawa sintetis organoklor.. Bahan aktif senyawa organoklor, seperti telah disebutkan sebelumnya, daya racunnya bersifat broad spectrum artinya mampu membunh bermacam jenis makhluk, bukan hanya serangga hama sasaran, melainkan serangga-serangga jenis lain yang memiliki hubungan kekerabatan jauh sekalipun. Bahkan bermacam jenis binatang termasuk mamalia. Organoklor juga bersifat persisten, artinya tidak mudah terurai sehingga daya racunnya awet, atau tetap beracun, walau setelah disemprotkan ke tanaman. Setelah DDT kemudian ditemukan dan diproduksi insektisida organoklor yang laian seperti di  antaranya BHC, Endrin, Dieldrin, Arkotin dan Aldrin.
Setelah organoklor, bahan-bahan aktif dari kelompok lain segera bermunculan dan diproduksi.  Dari kelompok organofosfat muncul Malation, Dimetoat, Paration dan Diazinon, dari kelompok karbamat muncul Karbaril, Metomil dan Karbofuran, dan sedangkan dari kelompok piretroid Permetrin dan Sipermetrin dll. Insektisida kelompok yang muncul belakangan umumnya lebih lebih rendah sifat persitennya, artinya lebih mudah terurai. Umumnya juga toksoisitasnya lebih tinggi (lebih beracun), namun sifat racunnya, terutama insektisida kelompok piretroid, lebih spesifik.  Masing-masing kelompok bahan aktip sifat dan cara kerjanya berbeda, namun tetap memiliki keunggulan yang sama dibandingkan dengan cara pengendalian yang lain. Karenanya,  insektisida kimia menjadi demikian popular, dan industri insektisida terus berkembang pesat sejak itu.  
Keunggulan yang membuat cepat populernya penggunaan insektisida modern adalah mudah diaplikasikan. Spraying (penyemproten), dusting (penyebaran tepung), maupun penyebaran butiran (granul), dengan bantuan alat yang relatip sederhana, dapat dilakukan  oleh hampir setiap orang. Hasilnya juga segera Nampak karena insektisida ini efektif untuk membunuh serangga dengan cepat. Dan, karena mampu membunuh hama dengan cepat, insektisida kimia dapat digunakan untuk menyelamatkan pertanaman, pada saat hama sudah menyerang. Insektisida dapat segera digunakan untuk mengendalikan hama di areal luas, dengan tujuan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, saat populasi hama atau kerusakan dilapangan mulai nampak.

Insektisida Kimiawi Menjadi Senjata Andalan
Banyak orang mengumpamakan masalah pengendalian hama adalah adalah seperti perang tanpa akhir antara manusia dengan serangga. Umat manusia, untuk bertahan hidup harus mengekpoitasi bumi: untuk memperoleh makanan harus bertani dengan bercocok tanam, dan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani harus beternak. Namun banyak jenis serangga yang memiliki kepentingan yang sama dengan manusia sehingga terjadilah persaingan hidup. Beberapa jenis serangga untuk betahan hidup dan berbiak perlu mengkonsumsi tanaman yang ditanam manusia, beberapa jenis yang lain harus mengkonsumsi darah atau daging khewan yang dipelihara manusia. Kelompok serangga ini popular disebut hama atau organisme pengganggu, jadi ada organisme pengganggu tamanan (OPT), dan tentu saja ada organisme pengganggu khewan.
Yang disebut diatas adalah kelompok serangga yang menyerang manusia secara tidak langsung. Namun ada juga kelompok serangga yang menyerang manusia langsung. Kita mengenal berbagai jenis lalat dan nyamuk yang sangat mengganggu kenyamanan hidup bahkan yang mengganggu, menggigit atau mengisap darah. Dan, beberapa jenis serangga benar-benar ‘menginginkan kematian manusia’. Mereka ‘berusaha membunuh manusia dengan cara’ menularkan penyakit yang berbahaya dan mengancam hidup. Mereka adalah vector penyakit yang sangat berbahaya, oleh karena itu manusia selalu berusaha untyuk memberantas atau menegdalikannya.
Dalam usaha menyelamatkan dirinya, dan tanaman atau khewan ternaknya dari gangguan serangga itulah manusia, harus menggunakan berbagai cara pengendalian seperti telah disebut sebelumnya. Dan karena  keunggulan-keunggulannya manusia memilih lebih banyak menggunakan insektisida. Semula, dengan ditemukannya insektisida modern yang demikian efektif, timbul rasa optimis bahwa perang akan segera usai dengan umat manusia keluar sebagai pemenang. NAMUN HARAPAN ITU TERNYATA MELESET.
 

Dampak dari Penggunaan Insektisida Kimiawi:
a.      resistensi
Senjata baru ini ternyata memiliki beberapa kelemahan. Beberapa tahun setelah penggunaannya, efektifitas insektisida makin lama makin menurun sehingga dosisnya harus selalu dinaikkan karena ternyata hama yang diberantas manjadi semakin tahan. Bila insektisida diganti hama kembali menjadi tahan terhadap insektisida yang baru. Pada tahun 1947 saja sudah dilaporkan adanya populasi lalat rumah Musca domestica di Swiss, nyamuk Culex pipiens di Italia, Aedes sollicitans di Florida AS yang tahan terhadap DDT. Jumlah spesies serangga yang dilaporkan tahan insektisida semakin banyak sehingga mencapai 224 spesies di tahun 1970, 364 spesies di tahun 1975, dan 428 spesies di tahun 1980.[7] Jumlah ini terus bertambah dari tahun ke tahun.
Ketergantungan pada insektisida juga sangat tinggi dalam pengendalian hama sayuran kubis. Mudah dipahami  mengingat kubis adalah sayuran Eropa yang bernilai ekonomi tinggi, sehingga masalah mutu dan penampilan sangat diutamakan. Cacat sekecil apapun harus dihindari. Plutella xylostella dan Croccidolomia binotalis adalah hama utama atau key pest tanaman sayur ini. Ulat Plutella menyerang daun tanaman muda sedangkan Croccidolomia menyerang daun muda sampai titik tumbuh tanaman tua. Untuk melindungi kubis dari kedua jenis hama tersebut petani harus menyemprotnya secara berkala sejak bertanam sampai hanya beberapa hari menjelang panen. Laporan ditemukannya residu insektisida yang cukup tinggi dalam daun kubis erat hubungannya dengan perlakuan ini. Pada tahun 1987 dilaporkan bahwa kubis di Lembang mengandung 11,1 ppb residu DDT sedangkan di Pangalengan sampai 0,2736 ppm. Diperlukan cara pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan untuk dijadikan sebagai alternatif.
b.      residu insektisida/polusi
Kemudian, ternyata bahwa penggunaan insektisida terus-menerus, seperti telah diuraikan sebelumnya, karena berdaya racun broad spectrum, meracuni banyak jenis makhluk, menimbulkan beberapa masalah lingkungan, membunuh jenis-jenis binatang bukan sasaran. Yang masuk ke dalam tanaman pertanian menjadi residu yang berbahaya bagi konsumen, sementara yang sedikit demi sedikit menumpuk dalam tubuh dapat menyebabkan keracunan kronis.
c.       resurgensi.
Penyemprotan insektisida terus menerus juga menyebabkan resurgensi pada hama, yaitu suatu fenomena dimana setelah penyemprotan insektisida hama menjadi lebih merusak karena mampu berkembang biak lebih cepat dibanding sebelumnya, sebagai akibat dari terbunuhnya berbagai musuh alami yang selama ini menjadi penekan populasi   Tahun 1980 telah dilaporkan adanya resurgensi pada 50 spesies hama akibat penggunaan DDT, BHC, Aldrin dan Paration.  Munculnya hama baru di Indonesia seperti wereng coklat Nilapaevatta lugens dan wereng hijau Nephotettix virensence pada tahun 1970-an di Indonesia termasuk di antaranya. Masih ada fenomena lain yaitu timbulnya hama sekunder. Beberapa spesies serangga walaupun memakan tanaman, karena populasinya sangat rendah, tidak dianggap sebagai hama karena kerusakan yang ditimbulkannya sangat tidak berarti. Rendahnya populasi spesies ini erat hubungannya dengan adanya musuh alami yang selalu menekannya. Namun akibat penyemprotan yang banyak membunuh musuh alami, spesies ini populasinya meningkat dan menimbulkan kerusakan. Hama ini dikenal sebagai hama sekunder. Penggunaan insektisida ternyata menyebabkan masalah hama semakin rumit. Bab terakhir  Silent Spring” berjudul :” The Other Road” atau “ Jalan Lain”, yang intinya menganjurkan kita untuk nenggunakan cara lain sebagai pengganti.

Masalah hama di Indonesia

Masalah hama di Indonesia tentu saja sangat luas. Panjang lebar tentang hal tersebut dibahas dalam buku yang berjudul “Pests of Crops in Indonesia oleh KALSHOVEN (1981).  Ingin disinggung di sini sedikit masalah hama yang seharusnya mendapat perhatian..
Untuk mengurangi ketergantungan pada buah impor, sekaligus menangkap peluang ekspor pemerintah telah mengembangkan sentra-sentra produksi buah di beberapa propinsi. Sentra produksi mangga misalnya dikembangkan di Indramayu dan Cirebon Jawa Barat, di Gresik, Pasuruan dan Probolinggo Jawa Timur, dan di Takalar Selawesi Selatan. Di perkebunan buah ini paling sedikit ada dua spesies hama lalat buah penting yaitu Bactrocera carambolae dan Bactrocera papayae. Menurut laporan kerusakan oleh lalat buah mangga di Jawa Timur dapat mencapai 25% bahkan di akhir panen mencapai 50%. Hama ini juga menyerang belimbing, papaya, jambu dan lain-lain, dan sebagai hama karantina selain menimbulkan kerusakan langsung lalat buah juga menjadi penghambat ekspor buah. Di beberapa negara lain lalat buah telah berhasil dikendalikan dengan TSM.
  Serangga kesehatan juga merupakan masalah serius di Indonesia. Terjadinya wabah demam berdarah sangat erat hubungannya dengan keberadaan serangga yang menjadi vektornya nyamuk Aedes aegyptii. Demikian juga malaria erat hubungannya dengan keberadaan nyamuk Anopeles. Di tahun 1960-an pemberantasan malaria pernah dilakukan dengan penyemprotan DDT di rumah-rumah penduduk. Penyakit yang sudah pernah dinyatakan hilang ini belakangan mewabah kembali di beberapa daerah. Di beberapa daerah penyakit kaki gajah yang disebabkan oleh nematoda merupakan endemi. Penyakit ini disebarkan oleh nyamuk Mansonia. Di masa mendatang diharapkan TSM dapat berperan dalam program eradikasi nyamuk-nyamuk vektor penyakit tersebut.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar