Saat ini, dapat dikatakan bahwa bagi banyak orang, memberantas hama
adalah identik dengan menyemprotnya dengan insektisida. Padahal, sebenarnya masih
banyak cara lain. Hama dapat dikendalikan dengan berbagai cara, yaitu: secara
fisik atau mekanik, secara kultur teknis dengan mengatur cara bercocok tanam,
secara hayati atau biologis. dengan menggunakan makhluk hidup yang menjadi
musuh alami hama, nah yang terakhir dengan cara kimiawi yaitu menggunakan bahan kimia beracun yang
disebut insektisida.
Masing-masing cara memiliki keunggulan dan kelemahannya
sendiri-sendiri Namun saat ini, mungkin
karena dianggap banyak keunggulannya, seperti telah diuraikan sebelumnya, yang
paling populer adalah pengendalian kimiawi dengan menggunakan insektisida.
Memberantas hama dengan insektisida efektif dan praktis, walauppun akan
kelihatan nanti bahwa penggunaan insektisida, terutama kalau dilaksanakan
berlebihan, dan kurang bijaksana akan menimbulkan banyak masalah sampingan. Kita
akan meninjau lebih lanjut pengendalian cara ini.
Insektisida Kimiawi
Insektisida adalah bahan kimia beracun yang dapat digunakan untuk membunuh serangga. Bahan aktif insektisida dapat berupa senyawa organik atau anorganik, senyawa alam atau sintetik. Dipasaran yang banyak dijual adalah insektisida kimiawi sintetis organik, artinya bahan aktif itu dibuat secara reaksi kiwiawi di pabrik, dan senyawa itu mengandung gugus C-H-O. Akhir-akhir ini berkembang juga penggunaan insektisida nabati dengan bahan aktif ekstrak tumbuhan, dan insektida hayati dengan bahan aktif makhluk hidup seperti mikroba, cendawan, bakteri, virus atau nematoda.
Apapun bahan aktifnya,
insektisida diaplikasikan dengan cara yang hampir sama yaitu dengan dicampur
air kemudian disemprotkan menggunakan penyemprot (sprayer), atau dicampur
tepung kemudian dihembuskan menggunakan pengembus (duster), atau dapat
juga dicampur carrier yang dibentuk
menjadi butiran kemudian ditebarkan (granule).
Semua cara aplikasi tujuannya untuk menyebarkan bahan aktif ke seluruh daerah
sasaran pengendalian.
Jadi berapapun jumlah hama
yang ada di lapangan, ada sedikit atau
banyak, daerah sasaran tersebut harus “ditutup” dengan bahan aktif insektisida
dengan harapan akan mengenai dan membunuh hama yang ada. Makin penuh penutupan
permukaan makin baik, atau makin besar kemungkinan populasi hama terbunuh
insektisida.
Cara insektisida membunuh
serangga hama ada bermacam-macam. Tergantung sifat racun insektisidanya,
serangga hama dapat terbunuh teracuni setelah bahan aktif menempel di permukaan
kulit (racun kontak), karena bahan aktip masuk kedalam sistem pencernakan
bersama makanan (racun perut), karena bahan aktip masuk kedalam sistem
pernapasan (racun nafas atau fumigan). Beberapa jenis insektisida memiliki
tidak hanya satu sifat, melainkan gabungan antara racun kontak - racun perut,
racun kontak - racun nafas dls
Sebenarnya insektisida
sudah dikenal sejak jaman kuno. Namun penggunaan insektisida modern yaitu
insektisida kimia sintetik seperti yang kita kenal sekarang baru dimulai sejak
ditemukan dan diproduksinya DDT (Dikloro
Dipenil Trikloroetan) pada tahun 1939. Senyawa ini adalah racun kontak yang
sangat efektif, tidak mudah terurai, dan daya racunnya bersifat broad spectrum
(meracuni hampir semua makhluk). Semula banyak digunakan untuk mengendalikan
hama vektor penyakit, dan telah berjasa mencegah wabah (epidemi) penyakit
berbahaya dengan cara membunuh vektornya, seperti penyakit tipus dan malaria.
Namun kemudian DDT populer juga digunakan untuk mengendalikan hama pertanian.
Di tahun 1940–an ribuan orang di berbagai negara terselamatkan oleh DDT
sehingga pada tahun 1948 PAUL MULLER sebagai penemunya mendapat hadiah Nobel.
DDT termasuk senyawa
sintetis organoklor.. Bahan aktif senyawa organoklor, seperti
telah disebutkan sebelumnya, daya racunnya bersifat broad spectrum artinya mampu membunh bermacam jenis makhluk, bukan
hanya serangga hama sasaran, melainkan serangga-serangga jenis lain yang memiliki
hubungan kekerabatan jauh sekalipun. Bahkan bermacam jenis binatang termasuk
mamalia. Organoklor juga bersifat persisten, artinya tidak mudah terurai
sehingga daya racunnya awet, atau tetap beracun, walau setelah disemprotkan ke
tanaman. Setelah DDT kemudian ditemukan dan diproduksi insektisida organoklor
yang laian seperti di antaranya BHC,
Endrin, Dieldrin, Arkotin dan Aldrin.
Setelah organoklor, bahan-bahan
aktif dari kelompok lain segera bermunculan dan diproduksi. Dari kelompok organofosfat muncul Malation,
Dimetoat, Paration dan Diazinon, dari kelompok karbamat muncul Karbaril,
Metomil dan Karbofuran, dan sedangkan dari kelompok piretroid Permetrin dan
Sipermetrin dll. Insektisida kelompok yang muncul belakangan umumnya lebih
lebih rendah sifat persitennya, artinya lebih mudah terurai. Umumnya juga toksoisitasnya
lebih tinggi (lebih beracun), namun sifat racunnya, terutama insektisida kelompok
piretroid, lebih spesifik. Masing-masing
kelompok bahan aktip sifat dan cara kerjanya berbeda, namun tetap memiliki
keunggulan yang sama dibandingkan dengan cara pengendalian yang lain. Karenanya,
insektisida kimia menjadi demikian
popular, dan industri insektisida terus berkembang pesat sejak itu.
Keunggulan yang membuat cepat
populernya penggunaan insektisida modern adalah mudah diaplikasikan. Spraying
(penyemproten), dusting (penyebaran tepung), maupun penyebaran butiran (granul),
dengan bantuan alat yang relatip sederhana, dapat dilakukan oleh hampir setiap orang. Hasilnya juga segera
Nampak karena insektisida ini efektif untuk membunuh serangga dengan cepat.
Dan, karena mampu membunuh hama dengan cepat, insektisida kimia dapat digunakan
untuk menyelamatkan pertanaman, pada saat hama sudah menyerang. Insektisida
dapat segera digunakan untuk mengendalikan hama di areal luas, dengan tujuan
untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, saat populasi hama atau kerusakan
dilapangan mulai nampak.
Insektisida Kimiawi Menjadi Senjata Andalan
Banyak orang mengumpamakan
masalah pengendalian hama adalah adalah seperti perang tanpa akhir antara manusia dengan serangga. Umat manusia, untuk
bertahan hidup harus mengekpoitasi bumi: untuk memperoleh makanan harus bertani
dengan bercocok tanam, dan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani harus
beternak. Namun banyak jenis serangga yang memiliki kepentingan yang sama
dengan manusia sehingga terjadilah persaingan hidup. Beberapa jenis serangga
untuk betahan hidup dan berbiak perlu mengkonsumsi tanaman yang ditanam manusia,
beberapa jenis yang lain harus mengkonsumsi darah atau daging khewan yang
dipelihara manusia. Kelompok serangga ini popular disebut hama atau organisme
pengganggu, jadi ada organisme pengganggu tamanan (OPT), dan tentu saja ada organisme
pengganggu khewan.
Yang disebut diatas adalah kelompok
serangga yang menyerang manusia secara tidak langsung. Namun ada juga kelompok
serangga yang menyerang manusia langsung. Kita mengenal berbagai jenis lalat
dan nyamuk yang sangat mengganggu kenyamanan hidup bahkan yang mengganggu, menggigit
atau mengisap darah. Dan, beberapa jenis serangga benar-benar ‘menginginkan
kematian manusia’. Mereka ‘berusaha membunuh manusia dengan cara’ menularkan
penyakit yang berbahaya dan mengancam hidup. Mereka adalah vector penyakit yang
sangat berbahaya, oleh karena itu manusia selalu berusaha untyuk memberantas
atau menegdalikannya.
Dalam usaha menyelamatkan dirinya, dan tanaman atau
khewan ternaknya dari gangguan serangga itulah manusia, harus menggunakan
berbagai cara pengendalian seperti telah disebut sebelumnya. Dan karena keunggulan-keunggulannya manusia memilih
lebih banyak menggunakan insektisida. Semula, dengan ditemukannya insektisida
modern yang demikian efektif, timbul rasa optimis bahwa perang akan segera usai
dengan umat manusia keluar sebagai pemenang. NAMUN HARAPAN ITU TERNYATA MELESET.
Dampak dari Penggunaan Insektisida
Kimiawi:
a. resistensi
Senjata baru ini ternyata memiliki beberapa
kelemahan. Beberapa tahun setelah penggunaannya, efektifitas insektisida makin
lama makin menurun sehingga dosisnya harus selalu dinaikkan karena ternyata
hama yang diberantas manjadi semakin tahan. Bila insektisida diganti hama
kembali menjadi tahan terhadap insektisida yang baru. Pada tahun 1947 saja
sudah dilaporkan adanya populasi lalat rumah Musca domestica di Swiss, nyamuk Culex pipiens di Italia, Aedes
sollicitans di Florida AS yang tahan terhadap DDT. Jumlah spesies serangga
yang dilaporkan tahan insektisida semakin banyak sehingga mencapai 224 spesies
di tahun 1970, 364 spesies di tahun 1975, dan 428 spesies di tahun 1980.[7]
Jumlah ini terus bertambah dari tahun ke tahun.
Ketergantungan
pada insektisida juga sangat tinggi dalam pengendalian hama sayuran kubis.
Mudah dipahami mengingat kubis adalah
sayuran Eropa yang bernilai ekonomi tinggi, sehingga masalah mutu dan
penampilan sangat diutamakan. Cacat sekecil apapun harus dihindari. Plutella xylostella dan Croccidolomia binotalis adalah hama utama atau key pest tanaman sayur ini.
Ulat Plutella menyerang daun tanaman muda sedangkan Croccidolomia menyerang daun muda sampai titik tumbuh tanaman tua.
Untuk melindungi kubis dari kedua jenis hama tersebut petani harus
menyemprotnya secara berkala sejak bertanam sampai hanya beberapa hari
menjelang panen. Laporan ditemukannya residu insektisida yang cukup tinggi
dalam daun kubis erat hubungannya dengan perlakuan ini. Pada tahun 1987
dilaporkan bahwa kubis di Lembang mengandung 11,1 ppb residu DDT sedangkan di
Pangalengan sampai 0,2736 ppm. Diperlukan cara pengendalian yang efektif dan
ramah lingkungan untuk dijadikan sebagai alternatif.
b.
residu insektisida/polusi
Kemudian, ternyata bahwa penggunaan insektisida
terus-menerus, seperti telah diuraikan sebelumnya, karena berdaya racun broad spectrum, meracuni banyak jenis
makhluk, menimbulkan beberapa masalah lingkungan, membunuh jenis-jenis binatang
bukan sasaran. Yang masuk ke dalam tanaman pertanian menjadi residu yang
berbahaya bagi konsumen, sementara yang sedikit demi sedikit menumpuk dalam
tubuh dapat menyebabkan keracunan kronis.
c.
resurgensi.
Penyemprotan insektisida terus menerus juga
menyebabkan resurgensi pada hama, yaitu suatu fenomena dimana setelah
penyemprotan insektisida hama menjadi lebih merusak karena mampu berkembang
biak lebih cepat dibanding sebelumnya, sebagai akibat dari terbunuhnya berbagai
musuh alami yang selama ini menjadi penekan populasi Tahun 1980 telah dilaporkan adanya
resurgensi pada 50 spesies hama akibat penggunaan DDT, BHC, Aldrin dan
Paration. Munculnya hama baru di
Indonesia seperti wereng coklat Nilapaevatta lugens dan wereng hijau
Nephotettix virensence pada tahun 1970-an di Indonesia termasuk di
antaranya. Masih ada fenomena lain yaitu timbulnya hama sekunder. Beberapa
spesies serangga walaupun memakan tanaman, karena populasinya sangat rendah,
tidak dianggap sebagai hama karena kerusakan yang ditimbulkannya sangat tidak
berarti. Rendahnya populasi spesies ini erat hubungannya dengan adanya musuh
alami yang selalu menekannya. Namun akibat penyemprotan yang banyak membunuh
musuh alami, spesies ini populasinya meningkat dan menimbulkan kerusakan. Hama
ini dikenal sebagai hama sekunder. Penggunaan insektisida
ternyata menyebabkan masalah hama semakin rumit. Bab terakhir “Silent Spring” berjudul :” The
Other Road” atau “ Jalan Lain”, yang intinya menganjurkan kita untuk
nenggunakan cara lain sebagai pengganti.
Masalah hama di Indonesia
Masalah hama di
Indonesia tentu saja sangat luas. Panjang lebar tentang hal tersebut dibahas
dalam buku yang berjudul “Pests of Crops in Indonesia” oleh KALSHOVEN (1981). Ingin disinggung di sini sedikit
masalah hama yang seharusnya mendapat perhatian..
Untuk mengurangi
ketergantungan pada buah impor, sekaligus menangkap peluang ekspor pemerintah
telah mengembangkan sentra-sentra produksi buah di beberapa propinsi. Sentra
produksi mangga misalnya dikembangkan di Indramayu dan Cirebon Jawa Barat, di
Gresik, Pasuruan dan Probolinggo Jawa Timur, dan di Takalar Selawesi Selatan.
Di perkebunan buah ini paling sedikit ada dua spesies hama lalat buah penting
yaitu Bactrocera carambolae dan Bactrocera papayae. Menurut laporan
kerusakan oleh lalat buah mangga di Jawa Timur dapat mencapai 25% bahkan di
akhir panen mencapai 50%. Hama ini juga menyerang belimbing, papaya, jambu dan
lain-lain, dan sebagai hama karantina selain menimbulkan kerusakan langsung
lalat buah juga menjadi penghambat ekspor buah. Di
beberapa negara lain lalat buah telah berhasil dikendalikan dengan TSM.
Serangga kesehatan juga merupakan masalah
serius di Indonesia. Terjadinya wabah demam berdarah sangat erat hubungannya
dengan keberadaan serangga yang menjadi vektornya nyamuk Aedes aegyptii. Demikian juga malaria erat hubungannya dengan
keberadaan nyamuk Anopeles. Di tahun
1960-an pemberantasan malaria pernah dilakukan dengan penyemprotan DDT di
rumah-rumah penduduk. Penyakit yang sudah pernah dinyatakan hilang ini
belakangan mewabah kembali di beberapa daerah. Di beberapa daerah penyakit kaki
gajah yang disebabkan oleh nematoda merupakan endemi. Penyakit ini disebarkan
oleh nyamuk Mansonia. Di masa
mendatang diharapkan TSM dapat berperan dalam program eradikasi nyamuk-nyamuk
vektor penyakit tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar