Minggu, 22 Maret 2015

KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT PENGENDALIAN HAMA (Nyanyian katak dan celoteh burung makin jarang terdengar di kebun dan pekarangan)



KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT PENGENDALIAN HAMA
(Nyanyian katak dan celoteh burung makin jarang terdengar di kebun dan pekarangan)

Kerusakan lingkungan ada yang kasat mata ada pula yang tidak. Kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang terjadi di kota-kota atau kawasan industri umumnya kasat mata. Seperti misalnya, rusak dan kotornya lingkungan lahan, tanah, air maupun udara yang terjadi di sana sebagai akibat hiruk pikuknya pembangunan dapat dilihat dengan jelas. Sehingga gangguannya terhadap kenyamanan hidup juga langsung terasa oleh siapa saja. Namun yang terjadi di pedesaan, tempat dilakukannya usaha pertanian, tidak demikian. Banyak yang tidak merasa dan tidak tahu bahwa di sanapun telah terjadi kerusakan lingkungan yang mengkhawatirkan, karena tidak kasat mata. Di tempat yang tampaknya aman tenteram ini ternyata juga telah lama terjadi kerusakan lingkungan, namun tidak seperti di kota dan kawasan industry, hanya terbaca oleh yang benar-benar memperhatikan.
Coba lihat. Kalau puluhan tahun yang lalu, pada malam hari di sawah dan di pedesaan kita masih dapat menikmati lautan kunang-kunang berkelap kelip, dan nyanyian katak yang bersahutan. Siang harinya kita dapat melihat burung-burung putih, kuntul dan blekok bertebaran, dan mendengar ramainya kicauan burung di pepohonan. Sayang sekali,  anak-anak kita sekarang sudah tidak mungkin lagi untuk menikmati pemandangan indah semacam itu, karena keadaan telah berubah. Banyak anak kita yang selama hidupnya belum pernah melihat kunang-kunang. Tidak mengenal apa itu kunang-kunang kecuali sekedar namanya di buku pelajaran, atau di dalam nyanyian. Berbagai jenis burungpun hanya mereka kenal dalam bentuk gambar. Kunang dan burung sudah menghilang entah ke mana. Kicauan burung sudah makin jarang terdengar di kebun dan pekarangan. Petakan sawah dan selokan-selokan,  yang dulu kaya ikan kecil siap untuk dipancing, sudah mati tanpa penghuni dan nyanyian katak juga sudah tidak terdengar lagi.
Banyak yang tidak menyadari akan hal ini. Dan, bagi yang tidak peduli, perubahan itu tidak punya arti apa-apa. Akan tetapi bagi para pemerhati lingkungan, semua ini adalah pertanda jaman yang sangat mencemaskan. Hilangnya burung, ikan, katak dan kunang-kunang dari alam terasa mengurangi keindahan dan kenyamanan hidup. Tetapi bukan hanya itu. Karena keberadaan aneka makhluk itu adalah indikator atau pertanda bagi tingkat kesehatan dan kebersihan lingkungan dari bahan-bahan yang berbahaya, kehilangan mereka berarti bahwa lingkungan kita sudah tidak lagi sehat, sudah tercemar bahan berbahaya dan kurang layak untuk dihuni. Itu menunjukkan bahwa alam sudah banyak tercemar racun, sehingga harus kita waspadai, seperti diungkap oleh seorang penulis terkenal RACHEL CARSON tahun 1962 dalam bukunya berjudul “Silent Spring,”  atau “Musim Semi yang Sepi”
RACHEL CARSON yang wartawan telah menjadi terkenal di seluruh dunia karena pendapatnya dalam tulisan itu. Menurutnya kerusakan lingkungan seperti digambarkan di atas, sangat erat hubungannya dengan cara-cara pengendalian hama yang telah dilakukan puluhan tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat, racun insektisida yang bertahun-tahun disemprotkan ke tanaman di lahan-lahan pertanian dan di pedesaan-pedesaan untuk memberantas berbagai jenis hama tanaman dan vektor penyakit, ternyata telah mencemari tanah, perairan dan bahkan produk pertanian. Daya racunnya awet karena bahan aktif insektisida yang digunakan bersifat persisten, pencemar itu tetap beracun selama berpuluh-tahun.
Di alam racun itu terbawa air menyebar ke mana-mana, sehingga melalui rantai makanan di dalam ekosistem menjadi setan penyebar maut bagi berbagai jenis makluk. Yang terbunuh bukan hanya binatang di kebun tempat insektisida diaplikasikan melainkan juga jauh di luarnya, semisal ikan-ikan di perairan dan burung-burung termasuk burung elang di dalam hutan. Yang tercemar bukan hanya air dan tumbuhan tetapi juga susu sapi, bahkan sampai ke susu ibu.

 

Yang dibahas “Silent Spring” adalah keadaan di Amerika, akan tetapi hukum alam bersifat universal. Yang terjadi di Amerika terjadi juga di Indonesia. Di tahun 1960-an, masa dilaksanakannya Revolusi Hijau,  pemerintah Indonesia mencanangkan Intensifikasi Massal Produksi Padi dengan cara memasyarakatkan Panca Usaha Tani. Pada dasarnya Panca Usaha Tani adalah usaha memasyarakatkan penggunaan teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas. Petani, setelah perbaikan sistem irigasi di lahan, dianjurkan untuk memperbaiki cara bercocok tanam, menanam padi varitas unggul IRRI, yang sangat responsip terhadap pemupukan, yang lalau diikuti dengan pemupukan dosis tinggi. , untuk mengamankan tanamannya dari serangan hama – yang berarti untuk menjamin produktivitas yang tinggi - juga dianjurkan menggunakan insektisida sebagai bahan pemberantantas hama.  Petani dianjurkan menyemprot tanaman padinya dengan insektisida secara terjadwal tanpa memperhatikan ada tidaknya hama. Dan, untuk memperlancar program tersebut pemerintah mensubsidi sampai 90% harga insektisida agar petani mampu membeli.
Usaha keras pemerintah hasilnya samasekali tidak mengecewakan. Indonesia berhasil mencapai swa sembada pangan pada tahun 1980-an. Petanipun mampu menyerap berbagai teknologi maju terutama penggunaan varitas unggul dan pupuk kimiawi. Teknologi penggunaan insektisida juga diserap oleh petani.

 
   
Hasilnya, sejak itu, ketergantungan petani dalam memproduksi pangan pada insektisida demikian besar. Bahan beracun tersebut telah dijadikan bahan jaminan bagi keberhasilan produksi pertanian. Demikiann tinggi ketergantungan tersebut, sehingga bagi petani, bahkan bagi kebanyakan kita sekarang, pengendalian hama sudah identik dengan insektisida.  Artinya, saat melihat hama seperti ulat, belalang atau wereng di sawah atau melihat semut, kecoa atau rayap di rumah yang terpikir pertama kali adalah bagaimana menyemprotnya dengan insektisida. Padahal itu bukan satu-satunya cara, dan bukan cara yang ramah lingkungan. Akibatnya, seperti diuraikan sebelumnya, lingkungan dan produk pertanian kita menjadi tercemar, dan berbagai jenis binatang bukan sasaran ikut terbunuh. Selain itu, masalah pengendalian juga menjadi semakin rumit karena timbulnya fenomena resistensi, resurgensi dan hama sekunder. Jadi, sudah seharusnya kita sekarang berusaha untuk mencari alternatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar